Pensel ini kawan baik aku
Kertas itu teman kami
Ayat itu yang tersusun rapi,
Nyawa kami...
Bila hidup tanpa kata-kata
Tanpa peribahasa
Tanpa ayat yang dibelit bersahaja,
Rasanya seakan-akan mati...
Bila menulis tanpa simile
Bila bersuara tanpa metafora
tanpa inversi
tanpa anafora yang diulang berkali-kali,
Roh seakan-akan sudah lari
yang stanza kedua n ketiga terakhir tu best hik3
ReplyDeletesejak bile zati pndai komen blog ni?
ReplyDeleteXP
pena laju mencatit...
ReplyDeletekertas sentiasa sakit...
melekarkan kata-kata berbahasa...
supaya dapat memahami ertiNya...
dapatkah aku memahaminya...
jika dibuang apabila menulisnya...
dapatkah aku memburunya...
jika hilang kalimah indahNya...
dan kertas sentiasa merelakan sakitnya
ReplyDeletedan pena, sentiasa begitu tarinya
meski sakit, jangan dibuang tulisnya
meski keliru, jangan dibuang harapnya
minta moga suatu waktu nanti
kalimah indahNya kembali
menghiasi kefahaman dalam sirat-sirat simpulan tulisan